Curat-coret kali ini mau nulis petani @Cikajang ah….. sekalian CurCol ( soalnya lagi mimpi ingin jadi petani ) he he he

Semua orang tahu Cikajang adalah salah satu sentral pertanian di Jawa Barat, hasi bumi dari Cikajang kerap jadi unggulan di pasar-pasar Induk yang ada di JABAR ( Pasar Caringin ) salah satu nya.

Namun belakangan ini ( setahunan ) saya perhatikan ada kejanggalan nih di para petani atau pelaku pertanian di Cikajang, yg menurut saya mungkin bisa dirubah kearah yg lebih baik, sebagai contoh kejanggalan yag saya temukan.

  1. Orang Cikajang kebanyakan buruh tani daripada petani itu sendiri, ini disebabkan oleh pendanaan ( permodalan ), dan pengetahuan cara tata kelola pertanian yg masih kurang, mereka punya lahan lebih memilih disewakan ke petani besar dan mereka memilih menjadi buruhnya.
  2. Harga Jual hasil bumi yg murah ( dibanding harga beli di pasar Induk ) ini disebabkan karena mata rantai komersial yang terlalu panjang, saya ambil contoh saat ini ( 20 Agustus 2013 ) harga wortel perkilo dicikajang adalah Rp 2.000 sedangkan di pasar induk Rp 7.000 padahal jarak antara Cikajang – pasar Induk tidak lebih dari 100KM, setelah di intip ternyata berikut mata rantainya… hasil bumi yg dijual petani sampai ke pasar induk.
  3. Mata Rantai ( sample Wortel ) PETANI – PENGEPUL ( ada cost yg harus dikeluarkan sebelum sampai ke pengepul yaitu harus bayar ongkos angkut Rp 250 perkilo dan ongkos bersihin barang Rp 250 perkilo  – PASAR DAERAH ( otomatis disini akan ada yg ngambil untung – PASAR INDUK ( sampai proses ini juga ada cost-cost yg harus dikeluarkan termasuk transport, uang saweran dijalan, dan untung bandar )
  4. Harga Pupuk dan perlatan pertanian yg tinggi
  5. Tidak ada atau tidak maksimalnya koperasi yg dapat mengontrol kebutuhan para petani

itu mungkin beberapa hal sederhana yag bisa dilihat, kalau mau lebih detail.. analisa sederhana ini bisa diperdalam.

Nah sekarang pertanyaan sederhananya agar tulisan ini nyambung ke judul ” merubah buruh menjadi real petani ” belakangn ini saya mengajak para buruh yang mempunyai lahan untuk menggarap lahannya sendiri, tentunya dengan berbagai sharing yang saya lakukan bersama petani, saya dapat ilmu cara bertani, dan para petani mendapatkan sharing manajement pengelolaan dari saya…

Garap lahan sendiri

Agenda yg sudah di bangun ada  beberapa tahap yg nantinya bisa dikelola bersama dengan petani:

  1. Garap lahan sendiri
  2. Kelola masa tanam. panen dan keuangannya
  3. Menyediakan kebutuhan pupuk, dan kebutuhan pertanian  sendiri
  4. Mengolah hasil tani agar mempunyai daya jual lebih.

Detail nya

Garap lahan Sendiri ( saat ini dikhususkan unutk bercocok tanam wortel )

Petani yg mempunyai lahan diajak unutk menggarap lahannya sendiri maising2 patani menanam 5 liter bibit wortel, dengan hitungan sebagi berikut

Modal

  • Bibit wortel sebanyak 5 Liter @Rp 100.000 = Rp 500.000
  • Pengolahan tanah sebayak 5 patok @Rp 100.000 = Rp 500.000
  • Pupuk sebanyak  Rp 250.000
  • Ngaramas 1 Rp 500.000
  • Nyuntik Rp 250.000
  • Ngaramas 2 Rp 500.000

Total  Modal Rp 2.500.000 unutk tanam 5 liter benih wortel di lahan sendiri.

Perkiraan hasil yg akan didapatkan

  • Rata2 setiap 1 liter wortel menghasilkan 5-6 kuintal jadi kalau 5 liter menghasilkan 2.5 – 3 ton
  • kalau harga saat ini ( 20 Agustus 2013 ) harga wortel perkilo adalah Rp. 2.000 makan hasil panen adalah 5-6 juta, itu artinya keuntungan terhadap modal adalah 100% dibagi masa cocok tanam itu adalah 3 bulan makan keuntungannya adlah 30% terhadap modal.
  • hitungan bagi petani, anggap modal adalah uang investasi yg harus dikembalikan maka hitungannya adalah hasil panen – modal = keuntungan 9 keuntungan biasanya dibagi 2 dengan pemodal atau sesuai dengan kesepakatan petani mau ngasih berapa ke pemodal )
  • jadi hitungan buat petani dengan ilustrasi tadi adalah  Rp 6.000.000 – Rp.2.500.000 = Rp. 3.500.000 dan dari keunutungan petani 3.5000.000 30% nya diberikan ke pemodal maka keunutungan bersih petani adalah Rp 2.450.000 9 atau Rp 815.000/bulan dan angka ini lebih besar daripada menjadi buruh tani yg perharinya dibayar Rp 20.000 untuk laki-laki dan Rp.15.000 unutk perempuan.

bayangkan kalau harga jual bisa diup lagi… Rp 5.000 mislakan perkilonya……… Mudah-mudahan… !!!

bersambung….