http://www.klik-galamedia.com/indexedisi.php?id=20081207&wartakode=20081207130050

DARI

sekian jenis kesenian bambu yang ada di Jawa Barat, salah satu yang masih bertahan adalah seni celempungan. Kesenian ini memang terasa asing di telinga masyarakat, terutama masyarakat masa kini. Namun, kesenian ini mampu menunjukkan eksistensinya di tengah masyarakat hingga kini.

Seni celempungan lebih terfokus paduan alat-alat musik tradisional, seperti kendang, gong, kenong, suling, toleat, dan sebagainya. Namun, celempungan yang diangkat kali ini adalah sebuah alat musik yang terbuat dari bambu.

Menurut salah seorang pemain dan pencipta celempungan awi, Kang Dadang atau Ki Utunz, celempungan ini terbuat dari bilah bambu buluh atau awi gombong. “Pokoknya, awi yang bisa digunakan untuk dibuat alat musik celempungan ini harus awi yang berbatang besar. Lain dari itu, tidak bisa digunakan,” ungkap Ki Utunz yang ditemui di sela-sela pementasan Bandung Blossom atau puncak HUT ke-198 Kota Bandung di Jln. Merdeka Bandung, Sabtu (6/12).

Meski sudah lama memainkan dan membuat alat musik celempungan, Ki Utun tidak tahu sejak kapan alat musik ini mulai digunakan oleh masyarakat Sunda. Yang pasti, katanya, celempung menggantikan suara gong. Hal ini berdasarkan suara yang dikeluarkan dari alat musik ini, yakni “neng gung” (gong).

“Mungkin ketika itu gong yang sering digunakan dalam celempungan rusak, sehingga diganti dengan alat yang terbuat dari bambu,” katanya.

Bedanya, gong yang terbuat dari tembaga berbentuk bulat dan ada bulat cembung di tengahnya. Sedangkan gong yang terbuat dari bambu berbentuk panjang bulat dan ada beberapa senar bambu. Panjangnya tidak lebih dari satu ruas bambu yang dibentuk dan diraut sedemikian rupa dan diberi senar awi.

“Itulah kamonesan urang Sunda, bisa membuat goong (gong) terbuat dari bambu. Namun hanya sebagian kecil urang Sunda yang bisa membuat gong dari bambu,” paparnya.

Biasanya alat musik celempungan dimainkan dengan alat musik bambu lainnya, seperti karinding dan toleat, yang ternyata mampu menarik perhatian masyarakat. Selain suara musiknya yang terbilang aneh, alat musiknya pun sangat langka. Terlebih celempungan buatan Ki Utunz jumlahnya lebih dari satu, sekitar delapan. Sehingga, bunyinya pun sangat menarik dan mempunyai nada yang berbeda.

Sedangkan alat musik karinding yang biasa dimainkan para petani di saung untuk mengusir hama burung manakala bulir padi sudah menguning. Penampilan musik karinding diiringi alat musik celempungan yang juga merupakan buluh bambu yang dipukul dengan alat pukul yang terbuat dari karet, cukup mencuri perhatian, karena dianggap aneh dan menarik.

Musik tradisional yang terbuat dari buluh-buluh bambu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat di Jabar (suku Sunda). Sebagai indungna seni, musik angklung mewarnai riak kehidupan manusia, terutama di lingkungan pedesaan.

Sejak bayi dalam kandungan hingga dilahirkan dan dibesarkan dan berumah tangga, musik angklung selalu mengiringi lewat upacara adat maupun kaulinan dan hiburan urang lembur.

Kekayaan alat musik tradisi dari bambu, seperti angklung, calung, suling, toleat, celempung, karinding, awi sada, bangkong reang, dan lainnya, yang jumlahnya mencapai 114 jenis, tidak hanya turut memperkaya khazanah musik Tanah Air, tapi juga turut menjadi bagian kekayaan musik etnik dunia.

Namun sangat disayangkan, alat musik bambu tersebut baru kita rasakan sebagai milik kita setelah ada pengakuan dari negara lain. Selama ini seakan tidak ada daya upaya untuk turut serta melestarikan dan mengembangkannya agar negara lain tahu kalau musik bambu tersebut merupakan milik kita (Indonesia).

Dalam perkembangannya saat ini, keberadaan alat musik bambu kurang menarik minat anak muda. Hal itu lebih banyak disebabkan kurangnya kesempatan bagi seniman dalam berkreasi dan menampilkan kemampuannya. Bahkan, saat ini tidak hanya alat-alat musik serta kesenian dari bambu yang kurang diminati, tetapi juga para perajin bambu.